Keindahan yang Tidak Selalu Menjadi Solusi
Ketika pemerintah mengangkat isu gentengisasi sebagai bagian dari kebijakan penataan lingkungan, pertanyaan muncul: Apakah keindahan visual bisa menjadi prioritas utama dalam pengambilan keputusan politik? Dalam konteks ini, estetika sering dianggap netral dan tidak problematis, padahal pada kenyataannya, ia sering kali menjadi dasar intervensi negara terhadap ruang hidup warga. Pertanyaan pentingnya adalah, apakah keindahan layak dijadikan prioritas kebijakan di tengah tantangan sosial yang lebih mendesak?
Sejarah Estetika dan Perannya dalam Kebijakan
Estetika, sejak awalnya didefinisikan dalam tradisi Yunani kuno, bukan hanya tentang keindahan visual, melainkan juga pengalaman indrawi, struktur, dan makna. Aristoteles memandang tragedi sebagai bentuk estetika yang kompleks, meski berisi penderitaan dan konflik. Nilai estetis justru muncul dari keteraturan alur dan dampak emosionalnya.
Dalam sejarah, estetika sering kali didominasi oleh perspektif kelas elite. Patung Pietà , David, atau lukisan Creazione Adamo adalah contoh bagaimana estetika sering kali terkait dengan kekuasaan dan kemewahan. Namun, abad ke-19 membawa perubahan dengan munculnya seni realisme yang menempatkan buruh, petani, dan ruang hidup sederhana sebagai subyek sah dalam seni.
Gentengisasi: Simbol Kehidupan yang Berbeda
Presiden Prabowo Subianto melemparkan wacana gentengisasi nasional sebagai bagian dari upaya penataan lingkungan. Atap seng berkarat diposisikan sebagai simbol kemunduran, sedangkan genteng diwajibkan sebagai solusi untuk meningkatkan kesehatan dan keindahan. Dalam narasi pemerintah, genteng bukan hanya tentang fungsi bangunan, tetapi juga sebagai penanda martabat dan citra bangsa.
Gentengisasi ditempatkan dalam Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah), yang bertujuan menciptakan rasa bangga kolektif melalui keseragaman visual. Dengan demikian, tempat tinggal warga negara masuk ke dalam logika estetika nasional.
Ketimpangan dalam Penggunaan Material Atap
Data Badan Pusat Statistik 2021 menunjukkan adanya ketimpangan besar dalam penggunaan material atap antarwilayah Indonesia. Secara nasional, rumah dengan atap genteng belum mencapai dua pertiga dari total hunian. Seng masih digunakan oleh sepertiga penduduk untuk atap hunian mereka.
Di Pulau Jawa dan Bali, penggunaan genteng sangat dominan, sementara di Sumatera dan Kalimantan, seng masih menjadi pilihan utama karena faktor harga dan kemudahan pemasangan. Di wilayah timur seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur, banyak rumah masih menggunakan atap tradisional seperti ijuk.
Estetika yang Harus Mengikuti Kesejahteraan
Mengganti atap rumah dengan genteng semata demi keindahan tidak sejalan dengan konsep estetika yang utuh. Estetika selalu terkait dengan pengalaman manusia secara menyeluruh. Ketika keindahan dijadikan alasan suatu kebijakan, estetika direduksi menjadi tampilan visual, dan dimensi etik serta sosialnya hilang.
Pemerintah saat ini masih menghadapi banyak persoalan yang lebih mendesak, seperti kesejahteraan guru honorer, kualitas pendidikan, dan evaluasi program Makan Bergizi Gratis. Estetika seharusnya mengikuti kesejahteraan, bukan mendahuluinya.
Kesimpulan: Estetika dan Prioritas Kebijakan
Pada akhirnya, cara negara berbicara tentang keindahan mencerminkan cara negara memandang warganya. Gentengisasi, yang awalnya ditawarkan sebagai solusi untuk penataan lingkungan, justru membuka pertanyaan lebih besar. Apakah warga dilihat sebagai subyek dengan kebutuhan nyata atau sebagai obyek visual yang harus ditata? Di situlah kebijakan publik seharusnya diuji.
FAQ
Apakah gentengisasi bisa menjadi solusi untuk masalah perumahan?
Gentengisasi bisa menjadi bagian dari perbaikan hunian jika ditempatkan secara proporsional. Penyeragaman atap rumah masuk akal jika linear dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Bagaimana estetika berperan dalam kebijakan publik?
Estetika sering kali menjadi dasar intervensi negara terhadap ruang hidup warga. Namun, keindahan tidak boleh dijadikan alasan untuk menyingkirkan realitas sosial.
Apa dampak dari gentengisasi yang diterapkan seragam?
Jika gentengisasi diterapkan seragam, beban terbesar akan jatuh pada wilayah dengan daya beli rendah. Subsidi besar akan dibutuhkan agar warga tidak dirugikan.
Bagaimana sejarah estetika memengaruhi pandangan masyarakat terhadap keindahan?
Estetika sejak Yunani kuno lebih dekat pada pengalaman indrawi, keteraturan, dan struktur, bukan pada kemewahan atau kebersihan tampilan.
Apa hubungan antara estetika dan ketimpangan sosial?
Estetika tidak bermaksud untuk menutup aib atau masalah, tetapi memperlihatkannya secara terang kepada audiens. Dalam konteks kebijakan, estetika dapat menjadi alat penyeragaman yang berisiko menumpulkan kepekaan sosial.


